Homepage Widgets (ATF)

Homepage Widgets

Buka MTQ Susoh, Wabup Cerita Kesiapan Abdya Jadi Tuan Rumah MTQ Aceh 2027

Pembukaan MTQ Susoh 2026 menjadi langkah awal Abdya menyiapkan diri sebagai tuan rumah MTQ Aceh 2027

Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mulai mematangkan langkah menuju Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi Aceh ke-38 tahun 2027. Upaya itu ditandai dengan pelaksanaan MTQ tingkat Kecamatan Susoh tahun 2026 yang menjadi bagian dari proses pembinaan dan seleksi qari-qariah sejak level bawah.

Wakil Bupati Aceh Barat Daya, Zaman Akli, saat membuka MTQ tingkat Kecamatan Susoh 2026 di Masjid Jamik Rawa, Gampong Gadang, Minggu (3/5/2026) malam. Foto: IST

SUSOH - Wakil Bupati Abdya, Zaman Akli, membuka langsung kegiatan tersebut di hadapan peserta, tokoh agama, dan unsur pemerintah yang memadati lokasi. Antusiasme masyarakat tampak kuat, memberi sinyal bahwa MTQ bukan hanya agenda tahunan, tetapi bagian dari denyut kehidupan religius warga.

Dalam sambutannya, Zaman Akli menyoroti makna kehadiran masyarakat sebagai kekuatan utama dalam menjaga syiar Islam di tengah perubahan zaman.

“Kehadiran kita di tempat ini menjadi bukti nyata adanya semangat kebersamaan dalam menjaga dan memuliakan syiar Islam, sekaligus memperkuat komitmen kita untuk terus menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

MTQ tingkat Kecamatan, menurutnya, bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Ajang ini menjadi tahap penting dalam menyeleksi dan mempersiapkan qari dan qariah terbaik Abdya sebelum tampil di level provinsi. Terlebih, Abdya telah ditunjuk sebagai tuan rumah MTQ Aceh 2027, yang menuntut kesiapan tidak hanya dari sisi teknis penyelenggaraan, tetapi juga kualitas peserta.

“MTQ ini adalah bagian dari kesiapan kita dalam menghadapi MTQ tingkat Provinsi Aceh ke-38 Tahun 2027, di mana Kabupaten Aceh Barat Daya dipercaya sebagai tuan rumah. Ini adalah sebuah kehormatan besar, sekaligus tanggung jawab yang tidak ringan,” kata Zaman Akli.

Ia menegaskan, Abdya tidak boleh hanya sukses sebagai penyelenggara, tetapi juga harus mampu mencetak prestasi. Karena itu, pembinaan sejak tingkat kecamatan dinilai menjadi kunci untuk membangun generasi Qur’ani yang kompetitif.

Lebih jauh, Zaman Akli mengingatkan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut penguatan nilai-nilai moral berbasis Al-Qur’an. Ia melihat MTQ sebagai ruang strategis untuk menanamkan kecintaan terhadap kitab suci, tidak hanya dalam aspek tilawah, tetapi juga pemahaman dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

“MTQ menjadi sarana penting untuk menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, bukan hanya dalam bacaan, tetapi juga dalam pemahaman dan pengamalan,” ujarnya.

Dari sudut pandang pembangunan daerah, ia menilai keberhasilan tidak cukup diukur dari infrastruktur fisik semata. Kekuatan spiritual dan nilai-nilai keislaman, katanya, justru menjadi fondasi utama dalam membentuk masyarakat yang berkarakter.

Kepada para peserta, Zaman Akli berpesan agar menjadikan MTQ sebagai ruang belajar dan pengembangan diri, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mulai berkontribusi menyukseskan MTQ Aceh 2027, dimulai dari hal sederhana seperti mendorong generasi muda untuk belajar Al-Qur’an dan menciptakan lingkungan yang religius.

Menutup sambutannya, ia menekankan bahwa keberhasilan sebagai tuan rumah tidak diukur dari kemeriahan semata, melainkan dari dampak jangka panjang yang ditinggalkan.